Tampilkan postingan dengan label takut badut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label takut badut. Tampilkan semua postingan

07 April 2010

Badut dan Profesi


Charlie Chaplin pernah bilang, “Cuma badut yang bisa membuat manusia terbang ke awan, bukannya para politikus yang tukang berantem,” mulai terbukti kebenarannya.

Profesi badut sebenarnya tak kalah tua dengan kemampuan manusia berpolitik praktis. Konon, sejak zaman Yunani dan Romawi kuno, sudah ada manusia penghibur yang memoles wajahnya dengan bedak tebal dan berpakaian aneh, serta fasih memperagakan mimik-mimik lucu. Dan sampai sekarang banyak Sanggar Badut.

Mereka tak hanya membuat tertawa orang-orang kaya yang stres lewat pertunjukan. Tapi juga menghibur dan mencari nafkah di jalan-jalan alias ngamen. Dengan kemampuan berpantomim dengan gerakan-gerakan slapstik yang konyol, boleh jadi merekalah salah satu penjaja hiburan jalanan tertua di dunia. Banyak Sanggar Badut menyediakan jasa untuk menghibur orang.

Belakangan, istilah badut sendiri melebar ke mana-mana. Lihat saja, hampir semua pelawak dan pemancing tawa kini juga kerap dijuluki sebagai badut. Bahkan orang serius yang sedang bertingkah laku konyol pun dikatai badut. Ya, sebagai istilah, badut memang mengalami perluasan makna.

Tapi kalau melihat sejarahnya, badut mengacu pada seseorang yang punya dandanan lucu (kadang meniru karakter komik). Selain itu, didukung make-up tebal cenderung menor, hingga kostum berwarna norak nan unik. Ditambah kemampuan memperagakan mimik lucu dan gerakan-gerakan konyol, tanpa sedikit pun melepas kata-kata. Inilah yang membedakannya dengan pelawak konvensional.

Sedangkan busana badut seperti yang dikenal sekarang, sesungguhnya hasil perkembangan kostum yang pernah populer di Jerman dan Inggris, sekitar abad ke-18 M. Kala itu, dandanan dan gaya pantomim Pickellherring begitu terkenal. Cirinya, baju dan sepatu gombrong (kebesaran), penutup kepala warna-warni, serta renda besar yang melingkar di seputar leher sang badut.

Pada abad ke-18 M ini pula, badut mulai menjadi bagian penting dari pertunjukan sirkus. Maklum, atraksi sirkus biasanya dipenuhi adegan-adegan akrobat yang menegangkan. Nah, kehadiran makhluk aneh pemancing tawa diharapkan bisa mengendurkan kembali urat saraf yang meregang. Hingga saat ini, aksi para badut tetap menjadi mata acara yang ditunggu-tunggu.

Salah satu pelopor pemakaian kostum badut modern, sekaligus bintang sirkus di awal abad ke-18 M, adalah karakter Jocy yang diciptakan Joseph Grimaldi. Konon, kelebihan Jocy yang membuatnya dikenang dalam sejarah perbadutan adalah kemampuannya menghidupkan tokoh badut yang diperankan. Jocy tak sekadar melucu, tapi juga memainkan perasaan penontonnya, lewat mimik sedih, bahkan ketakutan.

Menjelang era perfilman modern, karakter badut mengilhami banyak tokoh bisnis hiburan. Komedian Charlie Chaplin dan Buster Keaton misalnya, mengadopsi spirit para badut dalam semua film bisunya. Mulailah perkembangan era baru perbadutan, dari awalnya mengamen di jalan, menjadi bagian tak terpisahkan dari bisnis hiburan.

Barangkali benar kata penulis lagu beken Amerika, Cole Porter (1893-1964): “All the world loves a clown.” Ya, sepertinya memang tak seorang pun di muka bumi ini yang tak suka badut. Tak salah kalau dia layak diberi gelar warga favorit dunia.

rileks.com

01 Maret 2010

Sewa Badut untuk Hilangkan Rasa Bosan



Rasa bosan yangmenyebalkan ternyata bukan hanya milik manusia. Binatang jenis kera pun dilandakebosanan juga. Uniknya, perlu badut lucu untuk menghibur kera-kera bosan itu.

Badut (Sanggar Badut) yang menghibur kera itu bernama Christina Parker. Ia disewa bos sebuah kebun binatang di Jerman untuk mempertunjukkan kelucuan setelah dokter hewan menyatakan sejumlah simpanse, baboon, gorila, dan orang utan di kebun binatangnya sering sakit atau agresif jika diserang kebosanan.

Seperti disampaikan situs Ananova, Christina (Sanggar Badut) berusaha membuat binatang-binatang tersebut tertawa dengan membuat permainan dan teka-teki, bermain sepakbola,kantung plastik, kardus sasaran tinju atau blok kayu.

Ia mengatakan, Saat saya masih kecil saya selalu pergi ke kebun binatang dan melihat banyak dari binatang tersebut terlihat bosan dan sedih. Melakukan ini membuat saya merasa baik karena saya membuat hidup mereka senyaman mungkin. Dan mereka terlihat sangat menikmatinya.Mereka menjadi gesit saat mereka melihat saya datang karena mereka tahu mereka akan bergembira ujarnya.

Dilain pihak, kebosanan pada hewan ini diakuioleh psikolog hewan Jennifer Ringleb. Di alam, binatang menghabiskan setiap harinya untuk mencari makan. Di kebun binatang mereka tidak pernah melakukannya, mereka bosan. Dalam kasus serius mereka akan sakit atau agresif. Binatang memiliki sesuatu untuk dilakukannya yang membuat mereka gembira dan stabil, ujar Ringleb.

news.okezone.com

17 Februari 2010

Anak Anda Takut dengan Badut?



Mungkin Anda kesal, kok, si kecil takut pada badut atau sinterklas, dan menganggap ketakutan si kecil tak beralasan. Perlu dicarikan cara yang bijak untuk mengatasi ketakutan mereka.

Takut pada badut, sinterklas, dan orang bertopeng, memang kerap dialami anak-anak. Bahkan ada yang ketakutannya sangat berlebihan sampai-sampai melihat sosok sinterklas di teve atau gambar di majalah pun, si anak menjerit ketakutan. Jelas, hal seperti itu membuat orang tua cemas. Apalagi, meski sudah bertambah usia, ketakutan si anak tetap melekat. Apa yang harus dilakukan?

Untuk menenangkan putra-putri Anda yang takut saat melihat pertunjukan di Sanggar Badut, sinterklas, atau sebangsanya, ada beberapa kiat yang bisa dilakukan.

1. Persiapkan Anak
Jika si kecil kebetulan takut dengan badut, beli beberapa mainan/ benda-benda kecil yang berhubungan dengan Natal. Sertakan boneka badut ukuran kecil. Letakkan benda-benda tersebut agar dapat terlihat dan terjangkau oleh anak sehingga dapat dimainkan kapan saja ia mau. Sekali lagi, jangan dipaksa. Satu saat dia akan tergoda untuk bermain-main dengan benda-benda tersebut. Melalui bermain, anak bisa mengatasi rasa takut mereka dan kesalahpahaman mereka terhadap segala macam bentuk benda serta peristiwa yang berbau badut atau sinterklas.

2. Bantu Atasi Rasa Takut
Pada saat si kecil ketakutan melihat badut, sinterklas, ataupun benda-benda yang berhubungan dengan hal itu, peluk dia dan jangan mencoba menyuruhnya untuk menghilangkan rasa takutnya dengan kata-kata. Tunjukkan sikap empati dan beritahu dia bahwa Anda mengerti dengan apa yang dirasakannya. Misalnya dengan mengatakan, "Mama tahu kamu takut badut. Mukanya memang agak seram, ya?" Lalu katakan padanya, Anda tidak takut dengan sinterklas karena Anda tahu, badut baik dan senang memberi hadiah untuk anak-anak, tidak jahat, dan tidak membahayakan. Tunjukkan keyakinan Anda pada saat berbicara dengannya.

3. Hindari Menjauhkan Anak
Bila Anda bersama anak sedang berada di tempat atau toko-toko mainan yang berisi boneka badut, jangan menjauh dari tempat tersebut. Biarkan dia menjelajahi toko dan bagian boneka. Yang penting, temani dia saat mendekati bagian yang menjual berbagai boneka itu. Jika ia terlihat ketakutan, genggam erat tangannya atau gendong.

4. Libatkan Dengan Suasananya
Jika ia takut badut, misalnya, biarkan dia ikut membantu pada saat Anda membungkus hadiah-hadiah ulang tahun. Ajak dia untuk ikut kegiatan tersebut sedikit demi sedikit. Pada waktu membuat kue, tanyakan kepadanya, "Kamu mau membuat apanya? Kue berbentuk bintang atau badutnya?" Dengan membiarkannya menentukan apa yang ingin dibuatnya, dia akan merasa ikut terlibat dan hal ini betul-betul dapat membantunya mengatasi rasa takutnya.

5. Karang Cerita
Mulai dengan mengatakan, "Pada suatu hari, ada seorang gadis cilik yang sangat takut dengan badut." Gambarkan rasa takut si gadis kecil itu dan akhiri dengan mengatakan, "Dan akhirnya gadis cilik tersebut tidak lagi takut dengan Pak Badut".

Memang, mungkin buah hati Anda belum berani bersalaman dengan pada saat ada acara di Sanggar Badut atau duduk di pangkuan sinterklas tapi paling tidak, dia tidak lagi menangis, menjerit, atau berusaha lari pada saat melihat badut dan sinterklas. Bahkan mulai senang memperhatikan dan penasaran dengan hadiah yang akan diberikan oleh badut atau sinterklas. Akhirnya anak akan dapat mengatasi rasa takutnya. Yang jelas, untuk dapat mencapai pada tahapan ini, diperlukan kesabaran Anda!

nostalgia.tabloidnova.com