Tampilkan postingan dengan label busana badut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label busana badut. Tampilkan semua postingan

22 Februari 2010

Profesi Badut Tetap Bertahan


Charlie Chaplin pernah bilang, “Cuma badut yang bisa membuat manusia terbang ke awan, bukannya para politikus yang tukang berantem,” mulai terbukti kebenarannya.

Profesi badut sebenarnya tak kalah tua dengan kemampuan manusia berpolitik praktis. Konon, sejak zaman Yunani dan Romawi kuno, sudah ada manusia penghibur yang memoles wajahnya dengan bedak tebal dan berpakaian aneh, serta fasih memperagakan mimik-mimik lucu.

Belakangan, istilah badut sendiri melebar ke mana-mana. Lihat saja, hampir semua pelawak dan pemancing tawa kini juga kerap dijuluki sebagai badut. Bahkan orang serius yang sedang bertingkah laku konyol pun dikatai badut. Ya, sebagai istilah, badut memang mengalami perluasan makna.

Tapi kalau melihat sejarahnya, badut mengacu pada seseorang yang punya dandanan lucu (kadang meniru karakter komik). Selain itu, didukung make-up tebal cenderung menor, hingga kostum berwarna norak nan unik. Ditambah kemampuan memperagakan mimik lucu dan gerakan-gerakan konyol, tanpa sedikit pun melepas kata-kata. Inilah yang membedakannya dengan pelawak konvensional. Badut mulai berkembang seiring perkembangan zaman, misalnya badut pesta, badut ulang tahun, dan beberapa tempat juga ada sanggar badut.

Di Abad Pertengahan (sekitar tahun 500 M hingga 1.500 M) contohnya, tersebutlah karakter badut atau Professional Clown yang sangat terkenal. Masyarakat Eropa, khususnya Italia, mengenalnya sebagai arlecchino atau harlequin, yang dipopulerkan kelompok sandiwara commedia dell' arte. Kostum yang digunakan pun masih sangat sederhana, belum se-ngejreng sekarang.

Sedangkan busana badut seperti yang dikenal sekarang, sesungguhnya hasil perkembangan kostum yang pernah populer di Jerman dan Inggris, sekitar abad ke-18 M. Kala itu, dandanan dan gaya pantomim Pickellherring begitu terkenal. Cirinya, baju dan sepatu gombrong (kebesaran), penutup kepala warna-warni, serta renda besar yang melingkar di seputar leher sang badut.

Salah satu pelopor pemakaian kostum badut modern, sekaligus bintang sirkus di awal abad ke-18 M, adalah karakter Jocy yang diciptakan Joseph Grimaldi. Konon, kelebihan Jocy yang membuatnya dikenang dalam sejarah perbadutan adalah kemampuannya menghidupkan tokoh badut yang diperankan. Jocy tak sekadar melucu, tapi juga memainkan perasaan penontonnya, lewat mimik sedih, bahkan ketakutan.

Menjelang era perfilman modern, karakter badut mengilhami banyak tokoh bisnis hiburan. Komedian Charlie Chaplin dan Buster Keaton misalnya, mengadopsi spirit para badut dalam semua film bisunya. Mulailah perkembangan era baru perbadutan, dari awalnya mengamen di jalan, menjadi bagian tak terpisahkan dari bisnis hiburan.

Kini, badut-badut atau Professional Clown bisa dengan mudah ditemukan di berbagai tempat hiburan, semisal badut pesta, badut ulang tahun. Tentu, dengan beragam aksesori tambahan yang makin bikin geregetan. Uniknya, dengan tujuan yang selama berabad-abad lamanya tak pernah berubah, untuk memancing tawa dan menghibur siapa pun yang memandangnya.

Barangkali benar kata penulis lagu beken Amerika, Cole Porter (1893-1964): “All the world loves a clown.” Ya, sepertinya memang tak seorang pun di muka bumi ini yang tak suka badut. Tak salah kalau dia layak diberi gelar warga favorit dunia

rileks.com

28 Januari 2010

Sewa Badut dan Sulap Makin Banyak Order



RUMAHNYA di Gang I Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto nampak lengang. Hanya ada seorang ibu tua sedang duduk santai bersama cucunya di teras rumah sederhana itu. Tak lama berselang, dari rumah terlihat seorang pria dengan kumis lebat keluar.

Pak Dullah atau Bang Dullah, pria itu akrab dipanggil. Mengenakan kaos oblong putih dan celana selutut, pria itu terus mengumbar senyumnya. Tepat di atap teras rumah, tergantung tulisan sulap dan badut (professional clown). ''Ya, masih ada saja yang manggil saya untuk main sulap,'' ungkap bapak tiga anak ini sembari menghisap kuat-kuat rokok filternya.

Tepat di atas dia duduk, terlihat berjajar rapi kepala-kepala badut. Tak ada yang seram dari badut-badut itu. Hampir semuanya tokoh film anak-anak. ''Selama ini, yang sering tampil di acara ulang tahun, perpisahan siswa TK dan khitanan,'' katanya.

Bisa bermain sulap seperti saat ini, Pak Dullah tak pernah secara khusus sekolah. Diawali belajar di Solo, dia langsung mengikuti seorang tabib yang juga pesulap. ''Dari Solo, saya belajar lagi ke seorang pesulap dan juga jualan alat sulap di Surabaya,'' ujarnya.

Kini, didukung lamanya bergelut dengan sulap, Pak Dullah sudah mengantongi berbagai macam permainan sulap. Diantaranya, meja goyang, dompet keluar api, lilin jadi bunga, kertas jadi uang dan sendok bengkok sendiri. Selain itu, masih ada beberapa permainan sulap yang siap menghibur penonton. ''Saya terus mengikuti perkembangan sulap. Dan, seminggu sekali saya berlatih,'' katanya.

Ditengah berbincang santai itu, mendadak tangannya mengeluarkan dompet. Dengan cepat, tangan itu membuka dompet. Dan, dari dompet itu keluar api yang siap membakar apa saja. ''Ini bentuk permainan sulap dompet keluar api,'' ungkapnya yang langsung menutup kembali dompet dan tersenyum.

Tak hanya itu, meja bundar di sudut rumah yang sebelumnya tenang mendadak bergoyang. Melihat itu, Pak Dullah hanya tertawa. Namun, dia tidak memperlihatkan sedikit pun rahasia dibalik bergoyangnya meja tersebut. ''Sulap itu kan hiburan,'' katanya.

Sebagai seorang pemain sulap yang kerap menghibur anak-anak, Pak Dullah dituntut pandai mengambil hati anak-anak. Tak heran, pria kelahiran Mojokerto, 16 November 1966 itu humoris dan menunjukkan kasih sayangnya saat bertemu anak-anak. ''Selain keahlian, juga dituntut bisa mengajak komunikasi anak-anak,'' katanya.

Selama ini yang dirasakan, tidak ada waktu-waktu ramai tanggapan atau sepi. Setiap bulan dalam setahun hampir rata-rata. ''Sebulan ya rata-rata enam kali,'' katanya. Tergantung permintaan, hanya sulap atau lengkap dengan badut. Masing-masing mempunyai tarif sendiri. ''Kalau sulap lengkap dengan badut Rp 500 ribu,'' ungkapnya.

Untuk tarif tersebut, dia harus bermain sekitar satu jam dengan 7 sampai 12 macam permainan sulap. Sedangkan, kalau hanya sulap saja, tarifnya Rp 350 ribu. Pun kalau hanya badut (professional clown), tarifnya Rp 200 ribu. ''Tak hanya acara anak-anak. Saya pernah ***ndang pada acara halalbihalal dan reuni. Tapi memang, dalam halalbihalal itu pesertanya membawa anaknya,'' katanya.

Anaknya yang sekarang sudah SMA sudah diajari permainan sulap. Bahkan, anaknya tersebut sudah mulai berani memenuhi tanggapan. Kalau permintaan belajar, belakangan memang ada. Tapi, belum bisa dipenuhi. Permintaan tersebut berbarengan dengan banyaknya acara sulap di televisi.

jawapos.com

25 November 2009

Tips Membawa Si Kecil Ke Acara Pesta Ulang Tahun



Membawa anak ke pesta memang gampang-gampang susah. Apalagi jika ini adalah pestanya yang pertama. Salah-salah, bukannya senang, si kecil malah ketakutan menghadapi segala sesuatu yang serba baru buat mereka.

Ya, di pesta, si kecil akan menemukan hal-hal baru di luar rutinitasnya sehari-hari. Hal ini bisa membuatnya merasa tertarik, atau malah ketakutan. "Anak yang biasa di rumah merasa tenang, berdua dengan ibu atau pengasuh, tiba-tiba harus dihadapkan pada keramaian pesta. Tentunya perlu adaptasi," ujar Vera Itabiliana, Psi., Psikolog Anak dan Remaja dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia.

Agar acara menghadiri pesta bisa berjalan lancar, ada beberapa hal yang harus diperhatikan orangtua. Apa sajakah itu?

BERI PENJELASAN
Sebelum mengajak ke pesta, beri pengertian mendalam tentang apa itu pesta. Selanjutnya perlu dijelaskan pesta apa yang akan dihadiri, misalnya pesta ulang tahun, pesta pernikahan, atau pesta sunatan. "Beri ruang selama beberapa hari untuk anak bertanya-tanya, misalnya apa itu pernikahan. Berusahalah untuk memuaskan segala keingintahuan mereka di rumah," jelas Vera.

Beri tahu apa yang mungkin akan ditemuinya atau dihadapinya di pesta, misalnya badut (Professional Clown) atau ondel-ondel. Jika perlu berikan contoh-contoh gambar dan simulasi-simulasi agar ia tak merasa kaget.

TAKUT BADUT
Menurut Vera, sangat wajar jika anak takut badut (professional clown). "Terkadang badut memang menyeramkan, dengan badan yang sangat besar dan hidung bulat berwarna merah. Orang dengan postur seperti ini memang tidak sesuai dengan apa yang biasa dilihat oleh anak. Oleh sebab itu, awalnya dia pasti merasa kaget dan takut." Ada beberapa cara agar si kecil tak takut badut (professional clown).

* Beri penjelasan
Sebelum pergi ke pesta, berilah penjelaskan apa itu badut (professional clown)dan mengapa kita tidak perlu takut pada badut. Berikan contoh gambar-gambar badut atau beli boneka berwujud badut. Jika ada, tonton film anak-anak yang ada tokoh badutnya. Jangan paksa anak untuk langsung menyukai boneka badut (professional clown) tersebut. Biarkan saja, perlahan-lahan ia akan tertarik dan mulai memainkannya.

* Karang cerita
Anda dapat mengarang cerita tentang bagaimana badut (professional clown) bersahabat dengan anak kecil. Atau bagaimana seorang anak yang tadinya takut badut, akhirnya tidak takut lagi karena kebaikan-kebaikan si badut.

* Beri pelukan
Anak dapat mengatasi rasa takutnya jika melihat respon orangtuanya. Oleh sebab itu, reaksi orangtua tidak boleh berlebihan. Peluk saja anak dengan lembut dan katakan bahwa Anda mengerti akan ketakutannya. Lebih baik lagi jika sebelum mempertemukannya secara langsung, anak diperlihatkan dulu aktivitas si badut (professional clown) dari jauh.

* Beri contoh
Jangan coba menyuruh anak menghilangkan rasa takutnya dengan kata-kata. Tindakan atau contoh nyata lebih baik, misalnya dengan mengajak badut (professional clown) bersalaman, atau cobalah bercanda dengan badut. Dengan melihat bahwa orangtuanya tidak takut, anak akan berhasil mengatasi ketakutannya sendiri.

* Jangan memaksa
Setelah berbagai cara dilakukan, mungkin si anak belum berani bersalaman atau berinteraksi langsung dengan badut (professional clown). Biarkan saja, jangan terlalu memaksa. Setidaknya ia tak lagi menjerit dan menangis ketika bertemu dengan badut (professional clown).

* Mencegah rewel
Anak yang mengantuk atau lapar akan jauh lebih rewel. Oleh sebab itu pastikan anak sudah tidur dan makan dengan cukup sebelum membawanya ke pesta.

Nah, sekarang sudah siap membawa anak ke pesta?

sumber: nova