23 Maret 2010

Perkembangan Dunia Balet




Di ruangan dengan panjang sekitar 10 meter dan lebar 15 meter itu, empat perempuan muda menari. Tubuh mereka lincah meliuk-liuk mengikuti irama. Kaki yang mengentak dan pinggul yang bergoyang adalah bagian tubuh yang paling aktif bergerak.
Musik latin menyertai gerakan maju-mundur dan kiri-kanan. Meski di ruang kecil, kegiatan tersebut tak urung membuat penari cukup terengah-engah. Namun, raut wajah para perempuan yang menari salsa (latin center) itu tampak ceria.
Instruktur salsa, agus leo, mengatakan, salsa kini digemari kalangan muda. Salsa mudah menyebar karena daya tariknya yang mengedepankan kedinamisan dan pesona penari, khususnya perempuan. Banyak gerakan salsa yang berputar cukup cepat membuat penari harus lincah. Stamina pun menjadi penting sehingga tarian itu lebih sesuai untuk mereka yang berusia muda.
“kalau sudah berumur, cukup sulit karena napas bisa tersengal dan lebih cepat pusing lantaran banyak berputar,” kata agus. Selain tarian, salsa juga dapat diterapkan sebagai upaya melangsingkan badan. Tangan, leher, dan kepala senantiasa bergerak ketika menari salsa.
“jadi, dari gerakan-gerakannya, salsa itu bisa dikatakan tarian yang centil. Salsa juga bisa dianggap sebagai olahraga karena tipenya energik,” katanya.
Menurut agus, mereka yang mengambil kursus salsa rata-rata sudah dapat menguasai gerakan dasar setelah enam kali pertemuan. Lama setiap pertemuan sekitar 1-2 jam. Kebanyakan tarian dilakukan dengan cara berpasangan. Laki-laki memimpin dan perempuan mengikuti. Setiap kelas bisa diikuti delapan orang. Kursus salsa dimulai dengan peregangan, pemanasan, dan tarian. Menurut agus yang saat ini menjadi instruktur di tujuh tempat di bandung, sekitar 70 persen peserta latihan adalah perempuan.
Menyenangkan
Asal muasal salsa berasal dari amerika latin. Gerakan-gerakan yang mengarah pada tarian salsa muncul pada dasawarsa 1950-an di amerika serikat. Pada era 1970-an, para penari salsa mulai menemukan bentuk gerakan tersendiri lalu menyebar dengan cepat ke negara-negara lain di dunia. Di indonesia, salsa sudah ramai dikenal sejak 7-8 tahun lalu.
Peserta kursus salsa di latin center, lisa (42), mengatakan dulu terbiasa menekuni aerobik untuk berolahraga, tetapi kemudian merasa bosan. “lalu saya tertarik dengan salsa karena gerakannya bisa dikembangkan. Setiap kali mengikuti kursus, saya mendapat gerakan baru,” katanya.


Cetak.kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar