26 Oktober 2010

resep Nasi Goreng Teri

Nasi goreng adalah salah satu favorit menu saya dan suami untuk sarapan karena mudah dan cepat. Nasi putih yang masih tersisa dari menu makan malam pun tidak terbuang percuma. Biasanya saya masak nasi goreng dengan bumbu yang minimalis, hanya bawang putih cincang, bawang bombay cincang, garam, merica, dan kecap. Saking minimalisnya suami berpendapat bahwa nasi goreng saya cuma bentuknya saja yang mirip nasi goreng, sedangkan rasanya jauh berbeda dengan nasi goreng yang pernah dia makan sebelumnya. Beberapa hari lalu saya berniat masak nasi goreng dengan bumbu yang cukup lengkap. Hasilnya? Lumayan mirip dengan nasi goreng restoran. Ini dia resep nasi goreng teri ala sauskecap.com.

Bahan :

* 1 piring penuh nasi putih
* 50 gram teri, goreng kering
* 3 butir bawang merah
* 2 siung bawang putih
* 1 butir kemiri
* 3 buah cabe merah
* 4 sendok kecap manis
* garam dan merica bubuk secukupnya

Cara membuat :

* haluskan bawang merah, bawang putih, kemiri, dan cabe merah, sisihkan
* panaskan sedikit minyak goreng dalam wajan, masukkan bumbu halus, tumis hingga harum
* masukkan nasi putih, aduk rata, tambahkan kecap manis, garam, dan merica
* aduk hingga tercampur rata, masukkan teri goreng, aduk-aduk sebentar
* angkat dan sajikan bersama telur ceplok
sumber: sauskecap
Lihat Juga:
solaria
red mango
J.co

Mencoba Mie Titi

Urusan makan malam di Kota Mamasa ternyata tidak terlalu sulit. Sedikit berbeda dengan makan siang di Lembah Mamasa, ternyata mudah loch mencari rumah makan di Kota Mamasa. Ada beberapa rumah makan yang buka hingga cukup malam dan menyajikan Chinese Food, makanan khas Sulawesi dan khas Jawa namun sayangnya, tiada makanan khas Mamasa. Dari sekian banyak pilihan, saya memilih Rumah Makan Trie Jaya yang terletak sederet dengan Matana Lodge, di sebelah selatan Lapangan Kota Mamasa. Saya memilih rumah makan ini karena tampilan fisiknya yang paling meyakinkan diantara rumah makan lainnya. Hehehe. Sampai di dalam, saya dihadapkan pada deretan menu yang unik-unik dan ajaib. Anda pernah nggak denger Sunu, Katambak, dan Cepa? Akhirnya, saya memutuskan untuk bertanya satu-satu kepada mbak yang bertugas disana, menu apakah tersebut. Untung, rumah makan tersebut tidak terlalu ramai sehingga saya bisa bertanya sepuas hati. Beberapa menu yang ada terdiri atas Chinese food dan sisanya makanan Makassar. Akhirnya, saya mencoba Mie Titi, mie yang digoreng kering dengan siraman kuah kental yang menyelimuti mienya. Melihat modelnya, saya teringat akan Ifumie yang terkenal di Binjai. Perbedaannya, Mie Titi ini berasal dari Makassar dan menggunakan mie yang berukuran agak kecil. Mie Titi ini disajikan bersama dengan jeruk nipis yang akan membuat keseluruhan cita rasanya menjadi agak masam. Apabila anda tidak begitu suka asam, sebaiknya hanya menggunakan sedikit perasan jeruk atau tidak sama sekali. Cukup aneh apabila gurih dan asin dicampur dengan asam dari jeruk nipis. Mie Titi ini sangat saya rekomendasikan namun ya itu, jangan pakai jeruk nipis kecuali anda mencintai makanan yang agak masam. Untuk pelengkap makan malam, saya memesan Jus Tamarilla atau yang lebih dikenal sebagai jus Terung Belanda yang juga terkenal di Mamasa. Makanan di tempat ini nggak terlalu mahal, berkisar sekitar Rp. 7.000 – Rp. 18.000 dan untuk aneka jus dihargai sekitar Rp. 5.000.
Sumber: Indahnesia

Lihat juga:
Japanese food

25 Oktober 2010

review Solaria Plasa Semanggi

Siapa sih yang belum mengenal Solaria? Sangking majunya dan terkenalnya Solaria, mereka membuka 4 cabang di Plaza Semanggi.

YUP!! Empat!! Yang pertama buka di Lt. GF (depan Gramedia), kemudian di Lt. 1, Lt. 9 dan Lt. 10.

Tetapi, yang membuat Solaria Lt. 10 ini lebih menarik adalah view, kapasitas dan suasananya. Kita bisa makan sambil melihat-lihat pemandangan segitiga emas Jakarta.

Memang, Solaria Atmosphere ini banyak dikunjungi sewaktu malam. Mungkin karena banyak orang yang menyukai pemandangan waktu malam, yakni melihat city lights dari Jakarta. Tetapi jangan salah, Kita juga menikmati view yang indah pada siang hari.

Walau terletak di lt. 10 Plaza Semanggi dan berada di luar ruangan, anda tidak akan merasakan gerah atau kepanasan. Karena, angin yang berhembus cukup menyejukkan. Ditemani dengan alunan lagu-lagu yang sedang hits, membuat suasana makan siang anda menjadi lebih nikmat.

Siang hari ini aku memesan salah satu menu makanan kegemaranku di Solaria, yakni Nasi Goreng Kepiting. Kemudian minuman yang kupilih untuk menemani makan siangku adalah caramel frapucinno. Berikut reviewnya:

bowl NASI GORENG KEPITING IDR 19.091
Sebenarnya nasi gorengnya adalah nasi goreng biasa di Solaria, hanya saja penyajiannya yang membuatnya menjadi luar biasa. Nasi goreng tersebut diberi "toping" kepiting yang buanyaaaaaaakkkkk.... makanya ini menjadi menu kegemaranku di Solaria.

bowl CARAMEL FRAPUCINNO IDR 15.455
Untuk minuman kali ini aku mencoba caramel frapucinno ini. gak ngerti sih terbuat dari apa, tapi bagi yang pecinta minuman "ice blended", dan rasa manis, minuman ini patut di coba. (walau menurut aku sih terlalu manis.. berhubung aku sudah manis... gubrak!!)

sekian ulasanku mengenai Solaria Atmosphere di Sky Dinning Plaza Semanggi... Kembali ke Open Rice.
Sumber: OpenRice.com

Lihat Juga:
Red mango
J.co

Jelajah Kuliner di Ci badak

Banyak banget bertebaran pedagang berbagai jenis makanan di kawasan jalan cibadak bandung dan malam ini kita mampir di tempat makan yang namanya “Kobe”. Dari namanya kita udah bisa menerka kalau tempat ini menyajikan masakan ala jepang, tapi ga cuma Japanese food aja kok; Chinese food-nya juga ada.

Tempat ini salah satu tempat pilihan kita kalau lagi pengen makan enak dan kenyang. Dan menu yang kita pesan selalu itu itu saja, bukan karena yang lainya ga enak tapi memang menu itu udah menu pilihan kalau kita makan di Kobe jl cibadak ini. Menu yang dipesan di sini adalah Juan Lo yang diletakkan di atas steam boat, kangkung cah sapi dan udang tempura bayam.

Nikmat banget rasanya sewaktu menikmati Juan Lo yang panas panas, apalagi kalau paginya pegel pegel sehabis olahraga dan malam sebelum makan malam pijit dulu di bersih sehat. Wah top deh, makanan yang udah enakpun semakin enak dan nikmat sewaktu disantap

Setelah asik menikmati Juan Lo, kita bisa sambung dengan menikmati kangkung cah sapi yang bumbunya berasa banget; dan juga kriuk kriuk udang tempura plus daun bayam, irisan wortel dan terung yang digoreng menggunakan tepung bumbu.

Setiap datang ke sini kita selalu ambil posisi untuk duduk di luar alias di pinggiran trotoar bukan di bagian dalam kobe, biar tambah asik liatin cewe cewe manis yang lalu lalang untuk mencari makanan pilihan di kawasan ini dan biar ga begitu terganggu dengan pengamen yang setiap lima menit bisa gonta ganti karena para pengamen ini biasa koar koar dulu di bagian dalam.

Penasaran pengen nyobain? dateng aja ke Kobe, tempat makan yang berada di kawasan jalan cibadak bandung ini; dan kalau bingung nyarinya ya tanya aja, secara di kawasan ini tempat makan semua.
Sumber: Bandunglife

22 Oktober 2010

What Television’s First Woman President Has To Teach Us (Part 11)


Bookmark                            and   Share

Many women naturally have high likeability factors and can ramp up their authority and not lose all their likeability.

I worked with a young woman in her twenties whose public relations career had derailed due to her poor presentation skills. When she stood up to present, she acted like a little girl, losing all credibility and authority.

I asked her to pretend she was a tough-talking member of a women’s motorcycle gang. “Spit out the words!” I demanded. As she did, her voice got louder and deeper.

By getting in touch with her anger, the timid, little girl was transformed into a powerful woman.
Her coworkers were impressed and their positive feedback helped her overcome her discomfort in acting out her authority. From then on, she remembered the “motorcycle mama” whenever she presented and reclaimed the authority she already possessed.

Along with attitude, stance, eye contact, pausing, and vocal quality signal authority. When they present, many women I coach assume a dancer’s pose with one toe pointed out at a ninety-degree angle. While this stance may be pretty and feminine, it holds no authority. I counsel both men and women to stand in their full power by placing their feet shoulder-width apart and equally distributing their weight.

The eyes have been called the “windows of the soul.” As such, they are one of our greatest assets in winning audiences. I coach executives to begin their presentations by standing in silence, finding a friendly face, establishing eye contact, taking a deep breath, and then beginning their talk. This simple tip helps speakers become grounded and start their presentations with authority.

Many presenters talk while moving their heads from person to person like a sprinkler system, or worse they lose all connection with their audience by staring at one person, the slide screen, or into space. I train presenters to pick one person and maintain steady eye contact with that person until they have delivered a complete thought.

Like intensive eye contact, pausing signals authority. I teach students that there is power in the pause and recommend that pauses be used to emphasize important points.

Thirty-eight percent of our power as a presenter is determined by vocal quality. To maximize vocal quality, I suggest that women consider:
1. Raising the volume and projecting their voice.
2. Lowering the pitch of their voice, if needed.
3. Avoiding letting the intonation rise at the end of a sentence, or what Jerry Seinfeld termed “up-talking.” Up-talkers often appear uncertain about what they are saying, thus losing all authority and credibility.

Stance, eye contact, pausing, and vocal quality enhance a businesswoman’s authority when she speaks, but nothing creates a more powerful impression than conviction. While many women have strong convictions, they often have a difficult time expressing them. Most women have a conversational style that strives to make others feel comfortable. To accomplish this, many women position their beliefs as opinions and use disclaimers before they speak, such as, “I may be wrong about this, but.…” While this conversational style is extremely effective in building consensus, it can undermine the authority of the speaker.

When women speak with absolute certainty, claiming their full authority, their likeability factor may decrease, but it is worth it if they are able to garner the respect and recognition they deserve.

What Television’s First Woman President Has To Teach Us (Part 1)


Bookmark                            and   Share


By: Randy Siegel

I have a confession to make: I am addicted to Tuesday night’s new hit series “Commander and Chief.” Sure, Geena Davis is beautiful. She tall, regal, and has the best lips in the business after Angelia Jolie. But, television’s first woman president has captured my attention for another reason: I am fascinated with her communication style.

President Mackenzie Allen commands respect, and yet she is likeable. I would follow her lead and still enjoy throwing back a beer with her after a hard day of work in the White House.

Most women are damned-if-they-do and damned-if-they-don’t when it comes to communicating in the male-dominated worlds of politics, business, and education. In order to compete, they must find a delicate balance between authority and likeability.

All great communicators possess what I call “the terrific triad,” credibility, likeability, and authority. While many women want to claim their authority, they are concerned about appearing too domineering or abrasive, and thus losing likeability. “We are in a double bind,” one female executive shared.

To make matters worse, our culture associates authority with men. When we think of those traits we consider authoritative, we immediately think of tall, solidly built, and a lower pitched voice – all characteristics associated with men, not women.
In today’s world, women are expected to be both authoritative and feminine. “That’s very hard,” most women agree. In my experience as a communications trainer and coach, most women have to sacrifice some likeability for authority, and that is okay.

Women Who Dared to Invent

Job, jobs, career

Bookmark                            and   Share


As you sip your morning coffee you probably don’t give any thought as to how the actual process of coffee brewing came to be. If it wasn’t for a frustrated housewife in Dresden, Germany, you might have to brew your coffee by wrapping loose coffee grounds in a cloth bag and boil water around it. Suddenly you have a much better appreciation for Melitta Bentz’s invention.

Knowing there had to be a better way, she stuck some blotting paper in the bottom of a pot that she had poked holes in. Then she poured the water over it. This filtered out the bitter taste. It worked, and she started manufacturing her “coffemakers” and selling them at local fairs. They were a hit.

Other women felt the same frustration and started the invention process. Marion Donovan was a young mom who spent her days washing, bleaching and drying cloth baby diapers. She put together some padding and a show curtain and came up with a prototype. She took her product, “The Boater” around to manufacturers who all told her it would be too expensive to make and turned her down.

So she manufactured the product herself and sold them to department stores. Pretty soon the idea caught on. Moms went into the stores asking for the throwaway diaper. Mrs. Donovan sold her company for $1 million dollars and made moms around the world very happy.

Marie Curie was the only person to win two Nobel prizes. She was a scientist and an inventor. She invented a chemical process for extracting radioactive material from ore and she also discovered radium.

Anyone who has used a personal computer can thank Admiral Grace Murray Hopper for inventing the first computer compiler. The way software was written was changed. They no longer had to write time-consuming instructions for each new software package. She developed COBOL, which is the first user-friendly computer software program.

If you take your lunch to work in a brown paper bag you have Martha Knight to thank for it. She invented the machine that produced them. She was also the first woman to fight and win a patent suit after a man stole her design and put his name on it. He couldn’t imagine that a woman could create such a complex machine. She went on to invent several other machines and tools.

As more women are encouraged to invent, the list of women inventors grows. But still today less than 10% of patents belong to women. Necessity is truly the mother of invention.

Copyright (c) 2010 Julie Austin

Nasi Goreng di Abu Dhabi

Abu Dhabi (ANTARA News) - Pengunjung "Asian Food Fair 2010" yang digelar Kedutaan Besar RI di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UAE), pada Sabtu menyantap habis nasi goreng, es cendol dan sate padang yang dijual di stand Indonesia pukul 13.00 waktu setempat padahal acara baru akan ditutup dua jam kemudian.

Sejumlah orang yang antri nampak kecewa dan terpaksa harus mencari makanan di stand yang lain, demikian siaran pers KBRI di Abu Dhabi, Minggu.

Mengulangi sukses penyelenggaraan "Indonesian Charity Bazaar and Cultural Performances" tiga minggu lalu, Indonesia ditunjuk oleh asosiasi para istri duta besar negara-negara Asia (Asian Ladies- Association of Abu Dhabi) sebagai tuan rumah "Asian Food Fair 2010".

"Asian Food Fair" yang baru pertama kali diselenggarakan ini dimulai sejak pukul 11 hingga pukul 15 dan diikuti 13 negara yaitu Australia, Bangladesh, Brunei, China, Indonesia, Jepang, Kazakstan, Malaysia, Nepal, Phillipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Berbagai jenis penganan favorit Asia mulai dari sushi (Jepang) padthai (Thailand) pho (semacam soup dari Vietnam), kue-kue manis dari Kazakstan, Malaysia dan Brunei hingga nasi goreng Indonesia menghiasi 13 tenda-tenda yang berjajar rapi. Harga yang ditawarkan pun sangat murah untuk ukuran Abu Dhabi yaitu Dh.5 ( Rp 12.000) untuk satu porsi kecil.

Kali ini pegunjung semakin bervariasi, bahkan tampak beberapa duta besar di luar kawasan Asia dan warga setempat memenuhi halaman KBRI.

Antusias pengunjung untuk mencicipi berbagai macam makakan khas Asia benar-benar di luar dugaan panitia.

Persis pukul 14.00 hampir semua makanan habis semua diborong, kecuali dari stand China yang tampaknya lebih siap dengan mengambil bahan-bahan tambahan dari kedutaan besar mereka.

Koordinator stand Indonesia yang juga isteri Dubes RI di Abu Dhabi, Murgiyati Supriyadi, mengatakan jumlah pengunjung yang mencapai sekitar 1.000 orang ini di luar perkiraan mengingat acara tersebut baru dipersiapkan kurang dari dua bulan.

Banyak negara yang awalnya khawatir makanan mereka tidak akan laku. Melihat keberhasilan ini sebagian besar isteri para dubes Asia mengusulkan agar Asian Food Fair ini dijadikan acara rutin dan meminta Indonesia menjadi tuan rumah karena dinilai paling siap dengan lokasi yang strategis serta didukung peralatan yang memadai, tambahnya.

Pengunjung pun dihibur dengan berbagai tarian dan pertunjukan, antara lain dari China, Bangladesh, Malaysia dan Thailand. Sementara Indonesia selaku tuan rumah menampilkan pertunjukan terbanyaknya dengan menghadirkan tari Gambyong, Yapong, Jaipong dan Kulintang serta ditutup dengan Tari Poco-poco yang diikuti secara meriah oleh para pengunjung.

Duta Besar RI untuk Abu Dhabi, M. Wahid Supriyadi, menyatakan kepuasannya atas penyelenggaraan Asian Food Fair ini walaupun dengan persiapan yang sangat singkat.

"Beruntung KBRI telah memiliki panggung dan tenda yang dirancang secara khusus dan dengan cepat dapat dipasang," katanaya.

Tentang pilihan menu nasi goreng, Dubes Wahid bercerita bahwa dalam bazaar bulan lalu, seorang pengunjung asal Jepang protes kenapa Indonesia tidak menampilkan nasi goreng padahal dia dari rumah sudah memimpikan akan membeli makanan yang sudah "go international" tersebut.

Untuk itu dalam acara kali ini KBRI sengaja menyewa seorang chef professional asal Indonesia yang saat ini bekerja di restoran cepat saji yang sangat terkenal ?Noodle House? . Ternyata rumah makan itu juga memiliki menu ?Nasi Goreng Ayam Kampung?.

"Tidak jelas apakah memang benar-benar ayam kampung," ujar Wahid.

"Asian Food Fair 2010" diliput oleh dua harian berbahasa Inggris terbesar Gulf News dan Khaleej Times yang menurunkan artikel dan foto-foto kegiatan tersebut.
sumber:Antara

Lihat Juga:
Solaria
red mango
J.co

Jenis-jenis Buffet yang ada

Salah satu bentuk buffet adalah memiliki sebuah meja penuh dengan piring berisi makanan porsi tetap; pelanggan pilih piring berisi makanan apa yang mereka inginkan saat mereka berjalan bersama. Formulir ini paling sering terlihat di cafetaria. Sebuah variasi terjadi di sebuah rumah Dim sum, di mana para pengunjung membuat pilihan mereka dari troli beroda berisi piring makanan yang bersirkulasi melalui restoran. Lain turunan dari jenis buffet terjadi di mana pelanggan memilih makanan dari buffet gaya layout dan kemudian membayar berdasarkan apa yang dipilih.

Bentuk lain, yang dikenal sebagai all-you-can-eat, lebih bebas-form: pelanggan membayar biaya tetap dan kemudian dapat membantu diri mereka untuk makanan sebanyak yang mereka ingin makan di makanan tunggal. Bentuk ini sering ditemukan di restaurant, terutama di hotel.

Jenis ketiga buffet biasa ditawarkan di toko makanan dan supermarket adalah salad bar, di mana pelanggan membantu diri mereka sendiri untuk selada dan bahan salad lainnya, kemudian membayar dengan berat.

Jenis keempat buffet dikaitkan dengan perayaan semacam.

Sebagai kompromi antara self-service dan pelayanan meja penuh, buffet mungkin staf yang ditawarkan: pengunjung membawa piring sendiri sepanjang garis buffet dan diberikan sebagian dari server di setiap stasiun. Metode ini lazim pada melayani pertemuan di mana pengunjung tidak membayar khusus untuk makanan mereka.

Suatu bentuk buffet tradisional di Swedia adalah hamparan, yang secara harfiah berarti meja sandwich.

21 Oktober 2010

Japanese food Halal di Kaki lima

Di daftar menunya tertulis Tempura, Teriyaki, Yakiniku, dan Katsu, tapi jangan salah, ini bukan HokBen yang terkenal itu. Menu-menu itu ditawarkan oleh warung Japanese Food Pak Warto 31, satu-satunya warung masakan Jepang kelas kaki lima di Kota Solo.

Tampak dari luar, warung yang terletak di jalan Supomo, samping Pengadilan Negeri Solo ini memang sederhana. "Memang warungnya sederhana, tapi kalau menurut banyak pelanggan, rasanya nggak kalah dengan yang dijual di mall-mall itu, dan yang jelas harganya lebih terjangkau" ujar ibu Gemi, pengelola warung. Warung ini dikelola oleh ibu Gemi bersama Pak Warto, suaminya, sebagai juru masak.

Pak Warto mendapatkan keahlian memasak masakan Jepang saat menjadi koki di salah satu restoran masakan Jepang di Jakarta. Lalu dia mencoba peruntungannya dengan membuka warung masakan Jepang kaki lima di Jakarta, dan bertahan hingga 20 tahun. Sampai akhirnya dia memutuskan pulang ke Solo, dan membuka warung yang sama di Solo. Meskipun baru berdiri sejak 3 tahun lalu, warung ini sudah memiliki banyak pelanggan setia dari berbagai kalangan. Saat jam makan malam, kadang pengunjung harus rela antri.

Jangan ragu soal kehalalannya, "Kami sama sekali tidak memakai sake dan daging babi, jadi dijamin halal," ungkap ibu Gemi. Rasa makanan Jepang di warung Japanese Food Pak Warto 31 juga sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Namun, ada satu bahan yang tetap dipertahankan, dan tidak bisa digantikan, yakni Kikkoman alias kecap Jepang. Kikkoman digunakan untuk membuat kuah maupun saus. Menurut penuturan pak Warto, kecap ini di Solo tidak ada yang jual, dia biasa membeli Kikkoman yang asli di Jogja atau Semarang.

Soal harga? Murah! Untuk makanannya mulai dari Rp 6.000 hingga Rp 14.000. Warung Japanese Food Pak Warto 31 buka dari jam 17.00-22.00 WIB.
Sumber: langsungenak

Lihat Juga Chinese food

Japanese food Kaki Lima di samping Pengadilan Negeri Solo

Di daftar menunya tertulis Tempura, Teriyaki, Yakiniku, dan Katsu, tapi jangan salah, ini bukan HokBen yang terkenal itu. Menu-menu itu ditawarkan oleh warung Japanese Food Pak Warto 31, satu-satunya warung masakan Jepang kelas kaki lima di Kota Solo.

Tampak dari luar, warung yang terletak di jalan Supomo, samping Pengadilan Negeri Solo ini memang sederhana. "Memang warungnya sederhana, tapi kalau menurut banyak pelanggan, rasanya nggak kalah dengan yang dijual di mall-mall itu, dan yang jelas harganya lebih terjangkau" ujar ibu Gemi, pengelola warung. Warung ini dikelola oleh ibu Gemi bersama Pak Warto, suaminya, sebagai juru masak.

Pak Warto mendapatkan keahlian memasak masakan Jepang saat menjadi koki di salah satu restoran masakan Jepang di Jakarta. Lalu dia mencoba peruntungannya dengan membuka warung masakan Jepang kaki lima di Jakarta, dan bertahan hingga 20 tahun. Sampai akhirnya dia memutuskan pulang ke Solo, dan membuka warung yang sama di Solo. Meskipun baru berdiri sejak 3 tahun lalu, warung ini sudah memiliki banyak pelanggan setia dari berbagai kalangan. Saat jam makan malam, kadang pengunjung harus rela antri.

Jangan ragu soal kehalalannya, "Kami sama sekali tidak memakai sake dan daging babi, jadi dijamin halal," ungkap ibu Gemi. Rasa makanan Jepang di warung Japanese Food Pak Warto 31 juga sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Namun, ada satu bahan yang tetap dipertahankan, dan tidak bisa digantikan, yakni Kikkoman alias kecap Jepang. Kikkoman digunakan untuk membuat kuah maupun saus. Menurut penuturan pak Warto, kecap ini di Solo tidak ada yang jual, dia biasa membeli Kikkoman yang asli di Jogja atau Semarang.

Soal harga? Murah! Untuk makanannya mulai dari Rp 6.000 hingga Rp 14.000. Warung Japanese Food Pak Warto 31 buka dari jam 17.00-22.00 WIB.
Sumber: langsungenak

Lihat Juga Chinese food

20 Oktober 2010

Yuk coba buat Nasi Goreng Bali

Nasi goreng Bali dengan pelengkap: ayam pelalah, bawang goreng, irisan tomat, daun selada

BAHAN:
400 gr nasi putih
100 gr udang, kupas, sisakan ekornya
2 btr telur, kocok lepas
50 gr kol iris tipis
3 bh cabai rawit, iris tipis
3 sdm minyak goreng
5 sdm bawang goreng untuk taburan

BUMBU HALUS:
8 bh bawang merah
3 siung bawang putih
3 bh cabai merah
½ sdt terasi
½ sdt merica bubuk
1 sdt garam

CARA MEMBUAT:
1. Tumis bumbu halus sampai harum, masukkan telur dan udang, aduk rata.
2. Tambahkan nasi, cabai rawit, aduk rata, masukkan kol, aduk hingga matang.
3. Angkat, sajikan dengan ayam pelalah, taburan bawang goreng dan pelengkap lainnya.
sumber: tabloid nova

Lihat Juga:
red mango
solaria
J.co

Menyantap Ikan Segar di Lombok

Bagi mereka yang lebih memilih pilihan makanan terbaik dan beragam baik pilihan pada menu, untuk sebagian besar hotel Lombok masih menjamin ketika datang untuk mendapatkan makanan yang berkualitas. Jauh dari hotel terdapat banyak restaurant dan cafe di sekitar pulau di mana Anda dapat menikmati hidangan tradisional Indonesia, tanpa harus menguras kantong anda.

Oriental aksen dan Mediterania juga mudah ditemukan, di restoran di sepanjang pantai Senggigi tetapi di mana pulau benar-benar unggul dalam produksi makanan laut segar. tangkapan ikan di bakar dan daging disusun di atas BBQs di pantai, lezat dan menambah pengalaman baru, ini adalah makanlezat yang kucoba.


Menampilkan hidangan lokal yang disertai dengan musik hidup, Tropicana merupakan salah satu restoran pulau paling terkenal dan populer di Lombok. Terletak di Hotel Puri Mas, ongkos termasuk hidangan lezat seperti ikan Rijsttafel segar. tempat yang bersih dan mengadopsi interior Indonesia.

19 Oktober 2010

Life Success: The Difference Between Values and Goals

Employment, Accounting, Banking


Bookmark                          and   Share

By: Marsha Egan


Whether you believe it or not we are all governed by values. Our values influence how we make decisions and effectively run our lives. Values can be instilled in us or we can choose to adopt them. Our values can change. The important thing to know is that when we have strong values, and positive values, they will be integral to our achieving what we want in this life.

Values are not goals. Goals are targets. Values are the base upon which we run our lives.

Values are how you see the world, what you see as important, what you believe.

Why are we talking about values? Because they form the base for your approach to life! Values are the bedrock of your walking the path of life. They support and drive your purpose.

When coaching clients, one of the actions that we take is to have the client articulate what his or her values are. By writing them down, it is a way to keep our values present in our lives.

Here are a few ways to go about clarifying your values:

  1. Imagine you have a day to spend any way you want. What would you do? Some of the answers will give you clarity on what some of your values are.
  2. Think about your sense of right and wrong. As you articulate what is right, you will become more clear on your values.
  3. Consider what excites you and what motivates you. These will give you clues to values, as well.
  4. Ponder about the actions that can add stability to your life. This will open up thought on what those values might be

When you write down your values, it is important to write them in the present tense. As an example, you might write one of your values as "I am financially stable" rather than "I will be financially stable."

A great way to do all this, is to use index cards or sticky notes, because you may find that you will have many things written down. Most likely, they will work their way into natural groupings. Some people like to set a few overriding values, with supporting values.

To use the example above, an overall value could be "I am financially stable". You might have several supporting values to this statement such as, "I pay all my bills before the due date." "I review my insurance annually, " "I save x percent of my income."

Here are some areas where you might wish to state your values:

  • - family
  • - education
  • - morals
  • - community
  • - career
  • - friendships
  • - health
  • - finances
  • - recreation

While this may appear to be making more work than is necessary, it's interesting to see how, by being clear on what your values are, they can influence your actions.

In a personal example, one of my values is "I explore when I travel." On a recent speaking engagement in Oklahoma City, when I arrived at my hotel room, despite the fact that I was tired, I asked how far the Oklahoma Memorial was. When I found out it was only six blocks, I walked there, and was extremely glad that I did. It was a memorial to experience. I doubt that I would have done that, if I had not "lived" this value.

So, I urge you to take a little bit of time to become clear on what your values are. They are already there, most likely you just haven't put them to paper. It's nice to live them, and it's even nicer to pass them on to those who follow you.

Marsha Egan, CPCU, PCC is CEO of The Egan Group, Inc., a Reading, PA based professional coaching firm. She is a certified executive coach and professional speaker, specializing in leadership development and can be reached at marsha@marshaegan.com or visit www.marshaegan.com .

The Executive Summary is Your Business Plan's First Impression

Employment, Accounting, Banking

Bookmark                          and   Share


By: Corey Landis

The executive summary is not a mini version of the entire business plan. Keep it brief, two to three pages long. The purpose of the executive summary is to entice the reader to review, or request to review, the entire business plan. While the executive summary is presented first, it is written after the entire plan has been completed. It should not contain any information that cannot be found elsewhere in the business plan. Don't write the executive summary first, with the idea you can always expand it later into a full blown business plan, that just doesn't work.


If your business plan will not be presented for investors or bankers you don't need to complete the executive summary.
A brief two to three page overview of the company with one or two paragraphs under each of the following headings:


  • Business Activity: The company's products or services.
  • Market Opportunity: Define the company's market base, the customers, where they are located. Number of customers or dollar size of market.
  • Business Profile: A very brief description of when the company was established, by whom, number of employees, any recent changes.
  • Competitive Factors: The competitors, their strengths and weaknesses.
  • Marketing Strategy: The company's marketing: advertising, promotions, methods of distribution, and sales force.
  • Management Team: Brief description of senior management.
  • Capital Required: Amount, uses and type of the capital requested.
  • Financial Summary: Brief summary of the financial performance of the company for the last three to five years, if available and what is projected for the next three to five years.

Some of the most common mistakes entrepreneurs make in their executive summary include forgetting to put their contact information, name and phone number on each page. Not including the amount of your capital request. Not clearly articulating what business the company is in. Losing the reader in technical jargon. Some entrepreneurs think shorter is better but a one page executive summary isn't long enough to entice the reader. Most entrepreneurs have the intention to keep to no more than 3 pages but keep adding "just one more thing," until the summary is 10 or more pages long. Additional mistakes include forgetting to discuss the accomplishments of the management team. Not clearly stating who the customers (market) are. Not including the marketing strategies. And finally not including any financial projections.
If you want to know how to write a business plan you need to know what's included in the executive summary.

Small Business Ideas In Tough Economic Times

Employment, Accounting, Banking

Bookmark                         and   Share



By: Dave Johnshon

The global population of those laid off, unemployed or otherwise searching for ways to make ends meet, has caused a widespread interest in exploring business ideas. It is no longer just women who aim to work at home and tend to the home front. Everywhere, people give consideration to how to earn a living.


An employer may unexpectedly fall short of revenue, and promptly serve notice to employees that their services are no longer needed. The media regularly depict the economic woes of millions who find themselves at a loss for income. The poor economy, while seemingly harsh and unsympathetic, may also provide impetus for people to exercise entrepreneurial reactions. When times are good, people may feel free to dabble with ways to enhance income.


In times when the economy is down and out, this may launch incredible spirited efforts to make business dreams come true. Photography buffs, for example, may decide that now is the time to make that photography hobby pay off.
There are at least half a dozen reputable companies, including publishing market industry dynamos, who are offering do it yourself publishing. People enjoy picture taking and picture browsing. It can be to your advantage to consider merging book publishing with photography interests. A collection of photos can be compiled into a book format.


To make your photography book stand out, a person can develop a theme. When you go to major book publishing portals and conduct market research, you can begin to separate fruitless efforts from proven ones. Which books are doing well, along with titles, can easily be seen online through major book vendor sites. You would then migrate the book concepts, table of contents and titles, along with keywords to your photo project. You would then revise these contents to make them uniquely yours. Perhaps bestsellers include books of children or animals. Perhaps there is inspiring text or some other type of text for readers.


A person can upload images to a custom book site provider to initiate the publishing process. Images can be obtained from a number of sources. Stock photography websites, images in the public domain, or pictures you take yourself.


To find suitable text to pair with images, a person can conduct online research using the many sites offering a variety of quotes. A person can also rewrite inspirational sayings found online.


Some book publishing sites allow you to also sell your books through their site. The publisher may allow you to set your own prices and see upfront what your earnings may be. Some publishers offer different methods of publishing. Electronic or print custom books are often available. The terms and conditions will vary. For instance, commission may be better using one method, but payment time may be worse. A publishing service will often allow you to buy your own books, potentially discounted in cost. This option might be the most economical. In which case you can stock your books and set up your own website with cross marketing through the publisher site. You can take your books to local merchants, such as coffee shops, for resell, or sell them direct at community events. You could send local periodicals complimentary review copies. To get the word out about your book, there are a variety of online do it yourself public relations sites that will walk you through and distribute your press release free or at nominal cost. Among business ideas, photography books, can be an immediate venture. When you pair books with other products or concepts such as care packages for hospital patients, commuter markets, you can expand business opportunities.



18 Oktober 2010

Lucunya Permen Kapas

SAAT kecil dulu, pernahkah datang ke pasar malam, sirkus, atau karnival yang digelar di kota? Kalau pernah, kamu pasti pernah membeli atau minimal melihat kehadiran permen unik ini. Yep, dialah gula-gula kapas atau arum manis. Gula-gula kapas atau yang disebut cotton candy dalam bahasa Inggris ini bukan hanya lezat namun membawa sebuah kegembiraan tertentu bagi orang yang mengkonsumsinya, khususnya anak-anak. Selain manis, berwarna unik, dan berbentuk menarik, permen kapas juga bisa kita dapatkan dengan harga cukup murah.

Bahan pembuat permen kapas yang murni gula memang banyak dituding akan membuat gigi kita berlubang dan akhirnya dulu digunakan untuk menakut-nakuti kita saat ingin memakan panganan yang terasa sangat manis ini. Ini bukan anggapan yang salah, akan tetapi sebenarnya jumlah gula dalam satu porsi permen kapas biasanya tidak cukup banyak untuk membuat gigi kita langsung berlubang. Kecuali, tentu saja, kita makan permen kapas beberapa kali sehari dan beberapa kali seminggu.

Benang-benang gula yang ada pada permen kapas juga tidak cukup kuat untuk meretakkan dan menghantam email gigi. Selain itu, lelehan gula yang ada di dalam mulut pun tidak akan bertahan lama dan akan langsung terbilas oleh air liur. Faktanya, gula yang dikandung dalam satu porsi permen kapas rata-rata berjumlah sekitar 100 kalori. Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan kalori yang kita dapat dari non-diet soft drink yang dalam satu porsinya mengandung sekitar 100 sampai 130 kalori.

Permen kapas yang mengembang dan terlihat lucu ini juga membawa suasana menyenangkan bagi orang yang memakannya. Proses pembuatan permen kapas juga sudah berlangsung selama lebih dari 100 tahun. Kita mungkin bisa menanyakan proses ini pada kakek dan nenek kita karena ternyata satu daerah punya mesin pembuat permen kapas yang berbeda dengan tempat lainnya. Bagi banyak orang, bau dan aroma permen kapas yang manis dan bernuansa karamel mungkin tidak akan terlupakan dan seringkali akan membawa sedikit nostalgia. Bagimana dengan kamu?
sumber: OpenRice.com

Lihat Juga:
chinese food
solaria
nasi goreng
J.co

Kue Khas Jambi

Jika Anda pergi ke Jambi, jangan lupa beli kue khas Jambi, Srikaya Muso, Gandus dan Padamaran. Adalah pasangan suami istri Junaidi (40-an) dan Wilda (40-an) yang menjual kue-kue ini dengan merek Malvinas. Pabrik merangkap rumah mereka terletak di Lorong Ikhlas. Selain menjual kue khas Jambi mereka juga menjual ratusan jenis kue basah.
Awalnya, Jun, begitu sapaan Junaidi, memperkenalkan kue-kue khas Jambi ini dengan menjual berkeliling kota Jambi dengan gerobak roti. “Saya meneruskan usaha kakak di Lampung. Kakak saya paling pintar buat kue. Begitu saya pindah Jambi tahun 94′ saya mulai cari tahu apa kue khas Jambi yang harus dikembangkan.”
Salah satu kue yang paling disuka yakni gandus. Bahan gandus dari tepung beras, sagu,santan dan daun. Bumbunya, bawang putih dihaluskan, cabe dipotong-potong kecil dan santan diaduk. Setelah bahan dicampur lalu tambah garam. Untuk mencetaknya ada dua macam, satu cetakan bulat ada juga yang ditaruh dalam loyang dan dikukus selama 10 menit. Setelah matang, kemudian dipotong-potong. Sebelum disiapkan kue dihias dulu atasnya dengan taburan udang, ebi, ayam, daging giling atau abon ikan.
Soal rasa, tak perlu ditanya. “Legit dan gurih seperti bubur ayam. Legit karena ada campuran tepung beras,” lanjut bapak dua anak yang mengaku akan terus mempertahankan kue-kue khas Jambi agar tak punah. Yang jelas, meski promosinya cuma dari mulut ke mulut, kue-kue Jun banyak dipesan untuk acara perkawinan, ulang tahun, arisan dan acara-acara kantoran.
Sumber :Tabloid Nova Online

Lihat Juga:
Makanan
japanese food
red mango

15 Oktober 2010

Nasi Goreng Lada Hitam

Nasi Goreng Lada Hitam
Bahan :

* 500 gr nasi putih
* 1/2 buah bawang bombay, iris panjang
* 1 sachet (60 gram) Bumbu Nasi Goreng Sedap Kokita
* 100 gram udang jerbung kecil kupas, sisakan ekor, kerat punggungnya
* 100 gram cumi, potong ring
* 6 buah basi ikan, potong 4
* 2 butir telur, kocok lepas
* 2 1/2 sendok teh lada hitam, tumbuk kasar
* garam secukupnya
* gula secukupnya
* 2 batang daun bawang, potong serong
* 3 sendok makan minyak untuk menumis

Cara membuat :

* Panaskan minyak goreng, tumis bawang bombay hingga harum, tambahkan Bumbu Nasi Goreng Sedap Kokita. Aduk rata
* Masukkan udang, cumi dan baso. Aduk sampai berubah warna. Sisihkan di tepi penggorengan. Masukkan telur kocok lepas. Aduk sampai berbutir-butir
* Tambahkan nasi putih, lada hitam, garam, dan gula. Aduk rata hingga matang dan meresap.
* Masukkan daun bawang. Aduk rata
* Sajikan dengan irisan tomat dan ketimun.
Sumber: iresep

Lihat Juga:
Chinese food
Solaria

Sambal Tumapang

Tumpang atau sambal tumpang adalah sebuah makanan khas dari Kota Kediri. Cara penyajian sambal tumpang tak jauh beda dengan cara penyajian sambal pecel, yaitu dengan nasi yang di atasnya di beri aneka lalapan atau sayur - mayur yang telah direbus terlebih dahulu lalu disiram dengan sambal tumpang dan diberi peyek sebagai pelengkap, bisa peyek kacang atau peyek teri.

Sambal tumapang sendiri terbuat dari tempe yang telah busuk atau tempe bosok dan dimasak dengan di campur aneka bumbu seperti lombok atau cabe, bawang, garam dan bumbu dapur lainnya.Jangan keburu jijik jika mengetahui bahan dasarnya yang terbuat dari tempe bosok, tapi cobalah dulu rasanya jika telah matang, pasti akan membuat anda ketagihan.

Ada sebuah cara penyajian unik lagi dari sambal tumpang, yaitu dengan mencampurkan sambal tumpang dengan sambal pecel, perpaduan unik nan lezat ini disebut dengan nasi campur dan sambalnya disebut dengan sambal campur. Aneka makanan dengan tumpang bisa anda temui di sepanjang jalan Dhoho, Kota Kediri, Kediri, Jawa Timur.
Sumber: Wikipedia

Lihat Juga:
japanese food
Red Mango